Di ketinggian 800-1.100 mdpl, tersembunyi "emas hitam" yang telah dibudidayakan sejak zaman kolonial Belanda. Inilah Kopi Muria.
Jejak Sejarah di Colo
Kawasan Gunung Muria, khususnya Desa Colo, Japan, dan Ternadi di Kecamatan Dawe, bukan hanya rumah bagi Makam Sunan Muria. Tanah vulkanik yang subur ini telah menjadi lokasi perkebunan kopi sejak abad ke-18.
Jenis kopi yang mendominasi adalah Robusta Muria. Berbeda dengan Robusta dari daerah lain, kopi Muria memiliki cita rasa unik (body tebal) dengan sentuhan aroma moka dan rempah yang lamat-lamat, hasil dari tanaman pendamping seperti cengkeh dan parijoto yang tumbuh di sekitarnya.
Tradisi Wiwit Kopi
Masyarakat lereng Muria tidak hanya menanam kopi, mereka memuliakannya. Setiap musim panen raya tiba, petani setempat menggelar tradisi Wiwit Kopi. Ini adalah ritual doa bersama dan syukuran sebagai permohonan agar hasil panen melimpah dan berkah.
Oleh-Oleh Autentik
Saat ini, kedai-kedai kopi modern bermunculan di sepanjang jalan menuju Colo. Anda bisa menikmati secangkir kopi tubruk panas ditemani udara dingin pegunungan dan pisang goreng hangat. Jangan lupa membawa pulang biji kopi (roasted bean) atau bubuk kopi Muria sebagai oleh-oleh yang autentik.
Referensi & Sumber:
- Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Kudus. Potensi Kopi Muria.
- Jatengprov.go.id. Festival Kopi Muria Mengangkat Potensi Lokal.
- Kompas Travel. Menyeruput Kopi Muria di Ketinggian Dawe.